Bali - Hari Pertama - Pura Tirta Empul , Tegalalang Rice Terrace
28.12.18
Hari ini saya terbangun pagi dengan penuh semangat , meskipun hanya tidur tidak sampai 5 jam tapi saya begitu semangat untuk menjalani hari ini. saya bangun, mandi kemudian menelfon teman saya untuk menjemput saya. sambil menunggu dia datang, tentunya saya tidak akan melewatkan kesmepatan untuk mengabadikan hotel tempat saya menginap, saya sengaja memilih menginap di tempat ini karena tempat ini sesuai dengan mood saya, colorful, so cherished. ohya di hotel ini saya menginap di kamar "shared room", seharga kurang lebih RP. 150.000,-. ketika itu saya memesannya datri pegipegi.com . baru semenjak saya liburan ini saya baru tahu bahwa kita bisa sewa hotel low budget dengan metode ini. ketinggalan informasi banget ya. pagi itu saya mendapat sarapan super minimalis juga. saya lupa namanya apa, pokok kalau disebut gampangnya ya itu burger, bersama segelas teh hangat, eh panas. tidak lama kemudian teman saya datang menjmeput saya, sekalian saya check-out dari hotel. saya menitipkan barang-barang saya di tempat kos dia. saya hanya membawa 1 ransel yang berisi alat mandi dan baju se-cukup-nya. sudah ada dalam otak saya kalau saya akan membeli baju Bali saja, oleh sebab itu barang bawaan saya dari rumah sangat sedikit.
mari kita mulai perjalanan wisata nya
1. Pasar Seni Sukawati
Awal utamanya adalah karena teman saya dari Jakarta menitip "daster", iya daster khas Bali. bawaan ibu hamil, pengennya pakai yang longgar-longgar, memang sih baju khas Bali itu adem. dia sudah bilang ke saya kalau bisa cari ke pasar Sukawati karena harganya yang murah. awalnya saya tidak kepikiran untuk pergi ke tempat ini. Namun ketika saya bertanya juga ke teman saya yang di Bali, dimana tempat murah untuk membeli baju ala-ala Bali dia juga mengatakan hal yang sama. jadi fix saya pergi ke pasar ini. awalnya agak ragu, karena yang saya temukan adalah "pasar tradisional", namun ternyata letak pasar pernak-perniknya berada di sebrang. hal pertama yang saya cari adalah si daster, berasa kaya yang titah utama dari ibu hamil, haha. beneran aja harganya memang murah, waktu itu dapet 3 daster harga Rp 100-an. makin nawar ya makin murah. belum lagi di Bali kalau kita jadi pembeli utama hari itu, kita di sebutnya sebagai "penglaris" barang dagangan mereka. ketika baru saja toko itu buka dan ada barang yang terjual, maka hal itu akan menjadi penglaris untuk mereka, nanti uang yang kita berikan ke mereka, mereka akan tepuk-tepuk ke barang yang lainnya dan berkata "laris.. laris.. laris..". Budaya yang unik ya. di tooko yang sama pula saya tertarik untuk membeli sebuah terusan, warnanya memang bukan warna cerah, warna dasarnya hitam namun ada corak bunga warna kuning yang begitu mencolok. ketika teman saya melihat baju itu, ia juga berkata bahwa baju itu bagus. padahal saat itu saya sedang menggunakan baju yang memiliki corak bunga-bunga kuning juga. sepertinya saya sedang terobsesi dengan motif bunga kuning. tidak jauh dari sana saya berkeliling melihat begitu banyak barang-barang lainnya, masih sepi karena pasar masih baru akan di buka. hanya para penjual yang sedang merapikan barang-barang dagangan mereka. setelah berputar-putar saya juga tertarik membeli sebuah tas rotan, dari ibu-ibu yang memiliki kios kecil, dengana jurus jitunya " dek beli dek, penglaris, baru buka " dan saya pun membelinya, tas ini harganya sekitar RP 100,000,-.an entah kenapa saya tidak tega untuk menawar lebih murah lagi, sebenarny saya ngerti kalau harganya bisa lebih murah dari itu, karena ada orang yang review beli tas itu dengan harga Rp 80.000-an. cuma untuk saya pribadi, itu adalah usaha mata pencaharian mereka, jika kita masih bisa untuk membeli dengan harga yang mereka tawarkan tersebut, mengapa tidak? dan hal ketiga yang saya beli adalah topi. dari sekian banyak toko yang sudah saya lewati, mereka memiliki bentuk topi yang mirip satu dengan yang lainnya, tapi toko ini memiliki 1 topi yang unik menurut saya, tnapa pikir lama-lama lagi saya membeli topi di tempat tersebut. saya mendapat 2 topi dengan harga Rp 70.000,- .
2. Pura Tirta Empul
Puas sudah menemukan segala barang yang saya cari, beserta selesai memenuhi tugas kenegaraan dari ibu hamil, kami pergi menuju destinasi wisata sesungguhnya, yaitu Pura ini. belum terlihat terlalu banyak wisatawan yang datang. ketika akan parkir motor, saya bertanya kepada teman saya apakah aman juka kita ninggalin barang di kendaraan? dia berkata bahwa "di Bali itu sangat aman, penduduk asli Bali itu tidak akan mengambil barang apa yang bukan milik mereka. jadi tenang aja." . sayapun masih agak belum percaya ketika meninggalkan barang-barang, tapi kalau mau di bawa ya ribet juga sih. mau tidak mau ya percaya aja dulu. Kami masuk membayar tiket sebesar Rp30.000,- / orang. setelah membeli tiket kita akan masuk menuju pura , ada sebuah selendang yang harus di gunakan, kita bisa memberi "tip" seberapun kita mau. berhubung keadaan disana yang dingin, saya masi menggunakan jaket selama berada di pura ini. yang saya heran adalah, di jam yang menurut saya masih dingin tersebut, sudah ada orang yang nyebur ke kolam untuk berdoa. saya ga bisa bayangkan, kalau itu saya, menggigil pasti. teman saya menanyakan apakah mau ikut turun ke kolam? dengan mantap saya menjawab, "no thanks" foto-foto di darat saja. menurut saya pribadi terdapat 3 spot utama di dalam wisata ini, yaitu Kolam tempat berdoa, kolam ikan dan pura yang berada di belakang kolam tempat mereka berdoa. ohiya, untuk kita masuk ke bagian pura, para wanita wajib mengikat rambutnya, mereka menyediakan karet gelang. ketika kami akan masuk terdapat rombongan masyarakat Bali yang baru saja selesai melakukan ritual mereka. sungguh kebudayaan yang begitu kental. setelah dari tempat-tempat tersebut kami menuju pintu keluar yang tenyata terdapat pasar kecil yang berisi oleh-oleh khas Bali. tidak terlalu kecil juga, lumayan memiliki rute yang agak panjang. disana saya tergoda membeli sebuah setelah 2 suite rajutan, handmade. yang ini saya mengakui ibu ini menjual dengan harga murah, karena kali ini saya juga menjadi pembeli pertama mereka. saat itu saya mendapat harga sekitar Rp 80,000,-. kenapa saya bilang ini memang murah ? karena saya sudah coba cek ke toko-toko lainnya, mereka memberi harga di atas Rp100,000,-an. rencanya saya akan menggunakan setelan ini untuk berfoto di wisata air terjun besok. sesampainya di tempat parkir, hal pertama yang saya lihat adalah barang-barang apakah mereka masih ada disana atau tidak? hahaha. memang terbukti aman. ketika di tanya oleh seorang penduduk disana, kemanakan tujuan wisata kami berikutnya, dia merekomendasikan kami untuk pergi mencicipi kopi Bali, yang menjadi salah satu destinasi wisata juga di tempat itu, tidak terlalu jauh letaknya dari pura ini, yaitu Ulundesa, kurang lebih 5 km dari Pura Tirta Empul. dengan arahan yang sudah di berikan kitapun mencoba berangkat ke tempat itu, awalnya kita ga tahu nama nya apa, agak ragu mau pergi apa ngga, waktu lagi di pinggir jalan lewatlah sang bli ini, menunjukan tempatnya.
3. Ulundesa
destinasi ketiga ini benar-benar di luar planning, by the moment banget. tempat ini tidak memiliki biaya untuk tiket masuknya, kita sama sekali tidak membayar apapun kecuali kita membeli produk mereka. sesampainya kita disana, hal utama yang kami mjumpa adalah sambutan yang begitu hangat, kami di ajak sedikit berkeliling dan mereka menjelaskan sedikit tentang perbedaan kopi Arabika dan robusta, kemudian tentang kopi luwak yang mereka miliki. sampai kepada proses mereka memproduksi kopi luwak mereka, kita bisa melihat dan mencoba langsung meng- sangrai biji-biji kopi langsung di wajanya. selanjutnya kita di bawa ke bagian yang lebih dalam lagi tempat mereka menyajikan minuman-minuman produk mereka. saya lupa tepatnya ada berapa, kurang lebih ada sekitar 10 gelas yang mereka sajikan untuk kami cicipi. beberapa menu kopi dan lainnya adalah teh dan tanaman herbal. mereka menjelaskan dengan begitu rinci dari setiap minuman ini. kemudian di tempat bagian barang yang mereka jual, ada berbagai macam makanan oleh-oleh. bukan hanya serbuk minuman yang mereka jual, ada pula sabun, scrub, bumbu-bumbuan sampai coklat. saya ikir saya akan membayar setelah mencoba hampir dari 10 gelas yang saya sudah coba tadi, namun ternyata saya di buat terkejut lagi, bahwa semua itu gratis. seperti di awal yang sudah saya katakan tadi, kita tidak membayar apapun kecuali kita membeli barang jualan mereka.
4. Tegalalang Rice Terrace
destinasi terakhir hari ini adalah tempat ini. jalan menuju kesana cukup seperti lagu doraemon. kalian tahu kan gimana maksudnya. berasa kaya , "ini beneran ada tempat sebagus yang di foto-foto instagram?" karena selama di perjalanan seperti cuma hutan-hutan. saya di buat speechless ketika sudah sampai di lokasi, cantik banget tempatnya. di sepanjang jalan raya terdapat banyak kios-kios yang berjualan oleh-oleh. saya membeli sebuah outer putih polos, pengganti jaket saya untuk berfoto ria disini. biaya masuk wisata ini Rp10,000 / orang. semangat bener mau lihat lebih jauh ke bagian dalam. memang suasananya adalah persawahan, mesti hati-hati kalau pas musim hujan karena pasti becek dan licin. wah melihat warna hijau membentang, mata saya sungguh terpukau. jalan menyusuri naik turun, agak jauh ya awalnya kita rasa. dan kita baru sadar kalau kita itu belum makan siang, padahal waktu itu udah jam 3 lebih. teman saya yang emang ga pernah olahraga udah kecapean, padahal badannya kurus tapi dia ngap-ngap-an naik turun bukit nya. sampai akhirnya kita beli minum dulu, kita tanya, pintu keluarnya masih jauh ga ? jawabanya "udah ngga, itu disana, dikit lagi" dan percayalah berhubug kami sudah lapar, pitnu keluarnya itu berasa jauh banget ! kita udah nemuin lebih dari 5 papan petunjuk "EXIT" , tapi ngga exit-exit :( . Sungguhan, mood langsung kacau ga karuan. sesampainya di atas lagi, kita langsung ngomong , "akhirnya exit beneran" . hahaha sesuai namanya sih , rada-rada "TEGA" ya bikin capeknya. but its okay, namanya juga wisata, kalau ga capek, ga seru.
kita pulang balik ke arah Denpasar lagi itu udah sekitar jam 5 lebih, sampai di Denpasar jam 6-an. Balik ke kos dia, naruh barang-barang belanjaan tadi pagi, kemudian kita pergi lagi ke tempat kerja temen 1 lagi, nungguin dia pulang kerja jam 10, buat ngumpul lagi bareng sama yang lainnya. sebenernya badan saya capek, tapi berhubung mengingat waktu yang sungguh amat mepet, ya sudah lah. namun teman saya yang bersama saya 1 harian itu tidak ikut ngumpul karena dia butuh istirahat. akhirnya saya bertemu dengan beberapa teman lama saya ketika masih SD. bener-bener udah ga ketemu sejak lulusan SD, which is itu sekitar 12 tahun yang lalu. super excited ketemu mereka, dengerin cerita masing-masing, dengan setiap job yang mereka punya. ngga nyesel sama sekali luangin waktu ketemu mereka. sampai sekitar jam 12, mata saya sudah bener-bener ngantuk dan akhirnya kita memutuskan untuk balik. saya di antar menuju hotel kedua saya, Kayun Hostel Downtown. review tentang hotel ini akan saya ceritakan besok. anehnya begitu saya sampai di hotel, mata saya tiba-tiba terbuka lebar kembali. Saya baru sadar ketika sampai di hotel bahwa letkanya itu berada di tengah-tengah Kuta! oke ini sih kalau ngga di puterin malem ini, bakal nyesel. padahal dulu udah pernah kesini dengan teman saya ini, orang yang sama. ya muter-muter juga di Kuta situ, lewatin tempat-tempat club malam. lewatin gang kecil muter balik ke arah hotel tempat saya menginap tadi. yang saya amati adalah, "Kuta tidak se-ramai dulu" saya bertanya kepada teman saya ini, kenapa sekarang sepi ya? mereka berkata, karena sekarang sudah ada destinasi-destinasi club malam yang baru, kaya di Canggu,dll. jadi para turis juga udah kebagi-bagi ke daerah lain. melewati setiap gang-gang kecil, kiri kanan terlihat bar-bar kecil yang sudah tutup, ntah karena ini sudah terlewat malam, atau memang sudah TUTUP. teman-teman saya sendiri pun bilang, "dulu padahal jam segini itu rame banget disini, nanti sepi kalau sudah subuh. sekarang udah beda banget." mereka cerita juga tempat mereka dulu magang di dekat situ. sesudah sampai di hotel, saya pun istirahat, totaly ini capek fisik. saya tidur sekitar jam 3 subuh.
can't wait for tommorrow.
loading..














