Memasuki bulan Juli tahun ini jadi berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Jadi bulan yang penuh air mata, dari air mata kesedihan, sampai akhirnya air mata ucapan syukur.
Setiap orang yang pernah mengalami pedihnya kehilangan, pasti tahu bagaimana rasanya.
1 kalimat yang waktu itu membuatku tersadar , "Dia juga pasti mau kamu bahagia menjalani hidup ke depan".
dari semenjak itu, kalimat ini terngiang-ngiang sampai saat ini.
Untuk kalian yang telah di tinggal oleh orang yang anda begitu kasihi, mungkin kata-kata ini juga bisa menjadi sebuah reminder untuk diri kita, bahwa "dia" yang telah berpulang lebih dulu, juga pasti menginginkan kita bahagia dalam hari-hari kita saat ini.
Jangan hanya berfokus pada rasa kehilangan-nya saja, tapi jadilah sadar bahwa kamu masih memiliki kesempatan untuk membahagiakan orang-orang yang ada di sekitarmu saat ini.
[PHOTO1]
Setahun yang lalu, sama-sama berjuang untuk bisa melewati masa sakit covid.
Siapa yang sangka, di saat mendekati hari bahagia ulangtahun, papa terserang penyakit tersebut.
Cemas, panik, rasa takut terdalam yang pernah di rasakin memuncak semuanya di hari-hari itu.
Namun karena jarak terpisah jauh, dan keadaan yang belum memungkinkan untuk pergi merawat, ku hanya bisa melihat sebatas video call.
[PHOTO 2]
Masa-masa kritis, saat harus di masukkan di ruang isolasi Rumah Sakit.
[PHOTO 3]
Di hari yang sama, jam 8 pagi masih bisa video call, masih cerita-cerita.
Di jam 1 siang, dapat kabar bahwa Papa sudah berpulang ke Rumah Bapa.
Hari itu, merupakan titik terendah dalam kehidupan seorang anak perempuan yang kehilangan seorang Ayah dalam hidupnya.
Ku pikir menangisnya tidak akan lama, tapi ternyata tidak semudah itu ya.
Tapi ku tahu, Papa sudah senang di alam sana, sudah lega tanpa beban dari dunia ini.
Setahun yang lalu, sama-sama berjuang untuk bisa melewati masa sakit covid.
Siapa yang sangka, di saat mendekati hari bahagia ulangtahun, papa terserang penyakit tersebut.
Cemas, panik, rasa takut terdalam yang pernah di rasakin memuncak semuanya di hari-hari itu.
Namun karena jarak terpisah jauh, dan keadaan yang belum memungkinkan untuk pergi merawat, ku hanya bisa melihat sebatas video call.
[PHOTO 2]
Masa-masa kritis, saat harus di masukkan di ruang isolasi Rumah Sakit.
[PHOTO 3]
Di hari yang sama, jam 8 pagi masih bisa video call, masih cerita-cerita.
Di jam 1 siang, dapat kabar bahwa Papa sudah berpulang ke Rumah Bapa.
Hari itu, merupakan titik terendah dalam kehidupan seorang anak perempuan yang kehilangan seorang Ayah dalam hidupnya.
Ku pikir menangisnya tidak akan lama, tapi ternyata tidak semudah itu ya.
Tapi ku tahu, Papa sudah senang di alam sana, sudah lega tanpa beban dari dunia ini.
